Jauh sebelum Majapahit menancapkan dominasinya di Nusantara, sebuah kerajaan maritim telah lebih dulu menguasai jalur perdagangan paling strategis di Asia: Selat Malaka. Kerajaan itu adalah Sriwijaya, imperium berbasis di Palembang yang selama lebih dari enam abad menjadi penguasa lautan, pusat pembelajaran Buddha, dan simpul perdagangan yang menghubungkan Tiongkok, India, dan dunia Arab. Meski catatan tertulis tentangnya relatif terbatas, bukti arkeologi dan kronik asing mengungkapkan betapa besarnya pengaruh Sriwijaya dalam membentuk sejarah Asia Tenggara.
Kebangkitan di Abad ke-7: Palembang sebagai Pusat Kekuasaan
Sriwijaya mulai muncul sebagai kekuatan dominan pada pertengahan abad ke-7 Masehi. Bukti paling awal keberadaannya adalah Prasasti Kedukan Bukit, bertarikh 16 Juni 682 M, yang ditemukan di tepi Sungai Tatang dekat Palembang. Prasasti berbahasa Melayu Kuno ini mencatat perjalanan militer (siddhayatra) seorang penguasa yang berhasil menaklukkan wilayah-wilayah sekitar dengan pasukan berjumlah lebih dari 20.000 tentara dan ratusan perahu.
Palembang dipilih sebagai pusat kekuasaan bukan tanpa alasan. Letaknya di muara Sungai Musi memberikan akses langsung ke pedalaman Sumatera yang kaya akan komoditas ekspor seperti kapur barus, kemenyan, damar, dan emas. Sementara itu, posisinya yang strategis di dekat Selat Malaka memungkinkan Sriwijaya mengontrol arus kapal-kapal dagang yang berlayar antara Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan.
Selain Prasasti Kedukan Bukit, sejumlah prasasti lain seperti Prasasti Talang Tuwo (684 M) dan Prasasti Telaga Batu memberikan gambaran tentang sistem pemerintahan Sriwijaya. Prasasti Telaga Batu, misalnya, memuat sumpah kesetiaan (sapatha) yang mengancam hukuman berat bagi siapa saja yang berani berkhianat kepada raja, menunjukkan bahwa Sriwijaya memiliki struktur birokrasi yang ketat dan terpusat.
Menguasai Selat Malaka: Kunci Dominasi Perdagangan Asia
Kekuatan sejati Sriwijaya terletak pada kemampuannya mengendalikan Selat Malaka, jalur pelayaran tersibuk di dunia kuno. Setiap kapal dagang yang berlayar dari Tiongkok menuju India, Persia, atau Arabia harus melewati selat ini, dan Sriwijaya memanfaatkan posisi ini dengan cerdik. Kerajaan ini menerapkan sistem pelabuhan entrepot, di mana kapal-kapal asing diwajibkan singgah, membayar bea cukai, dan melakukan transaksi dagang di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya.
Komoditas yang diperdagangkan sangat beragam: rempah-rempah dari Maluku, kapur barus dari Sumatera, sutra dan porselen dari Tiongkok, serta kain katun dan batu mulia dari India. Sriwijaya sendiri tidak hanya menjadi perantara, tetapi juga pengekspor aktif produk-produk lokal yang sangat diminati pasar internasional.
📊 Estimasi Volume Perdagangan Kerajaan Maritim Asia (Abad ke-9)
Hubungan Diplomatik: Dinasti Tang dan Kerajaan Chola
Sriwijaya menjalin hubungan diplomatik yang erat dengan dua kekuatan besar dunia kuno. Dengan Dinasti Tang di Tiongkok, Sriwijaya mengirimkan setidaknya 14 misi diplomatik antara tahun 670 hingga 742 M. Catatan Tiongkok menyebut Sriwijaya sebagai "Shi-li-fo-shi" dan menggambarkannya sebagai kerajaan yang makmur dan berkuasa. Hubungan ini bukan sekadar formalitas: kedua pihak saling bergantung dalam perdagangan yang menguntungkan, dengan Sriwijaya menjadi pemasok utama komoditas tropis bagi pasar Tiongkok.
Namun hubungan dengan Kerajaan Chola di India Selatan justru berakhir tragis. Pada tahun 1025 M, Raja Rajendra Chola I melancarkan serangan besar-besaran terhadap Sriwijaya, menyerang sejumlah pelabuhan dan menawan raja Sriwijaya. Serangan ini dipicu oleh persaingan dagang dan keinginan Chola untuk mengambil alih kendali atas jalur perdagangan di Selat Malaka. Meskipun Sriwijaya berhasil bertahan, serangan Chola menandai awal melemahnya dominasi maritim kerajaan ini.
Sriwijaya dalam Angka
Pusat Pembelajaran Buddha: Koneksi dengan Nalanda
Sriwijaya bukan hanya kekuatan ekonomi dan militer, tetapi juga pusat intelektual dunia Buddha. Biksu Tiongkok terkenal I-Tsing (Yijing), yang mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671 M, mencatat bahwa di kerajaan ini terdapat lebih dari seribu biksu yang mempelajari tata bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha. I-Tsing bahkan menyarankan para biksu Tiongkok untuk singgah di Sriwijaya selama satu hingga dua tahun guna mendalami bahasa Sanskerta sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Hubungan Sriwijaya dengan Universitas Nalanda di India sangat erat. Raja-raja Sriwijaya diketahui memberikan sumbangan besar untuk pemeliharaan Nalanda, dan para cendekiawan dari kedua tempat ini saling bertukar pengetahuan secara intensif. Seorang sarjana besar dari Sriwijaya bernama Dharmapala bahkan pernah menjadi kepala Universitas Nalanda, menunjukkan betapa tingginya reputasi intelektual kerajaan ini di mata dunia.
"Di negeri Sriwijaya, ada lebih dari seribu biksu Buddha yang pikirannya tertuju pada pembelajaran dan perbuatan baik. Mereka mempelajari semua subjek yang sama seperti di India." — I-Tsing, 689 M
Kemunduran dan Keruntuhan Sriwijaya
Beberapa faktor saling berkaitan menyebabkan kemunduran Sriwijaya secara bertahap. Serangan Chola pada 1025 M melemahkan kekuatan angkatan lautnya. Munculnya kerajaan-kerajaan pesaing seperti Singhasari dan kemudian Majapahit di Jawa semakin mengikis pengaruhnya. Pada abad ke-11, sejumlah pelabuhan vassal mulai memerdekakan diri dan menjalin hubungan dagang langsung dengan Tiongkok tanpa melalui Sriwijaya.
Perubahan pola perdagangan internasional juga turut berperan. Pedagang Tiongkok mulai berlayar langsung ke pelabuhan-pelabuhan di Asia Tenggara tanpa perlu singgah di Sriwijaya, mengikis peran kerajaan ini sebagai perantara. Pada abad ke-13, ekspedisi Pamalayu yang dikirim oleh Singhasari (dan kemudian dilanjutkan Majapahit) berhasil menundukkan sisa-sisa kekuatan Sriwijaya di Sumatera. Catatan terakhir tentang Sriwijaya sebagai entitas politik yang berarti berasal dari sekitar abad ke-14, ketika wilayahnya telah menyusut drastis dan akhirnya diserap oleh kekuatan-kekuatan baru yang muncul.
Bukti Arkeologi: Jejak yang Tersembunyi
Salah satu misteri terbesar dalam arkeologi Asia Tenggara adalah minimnya peninggalan fisik Sriwijaya dibandingkan dengan besarnya pengaruh kerajaan ini. Berbeda dengan Majapahit yang meninggalkan candi-candi megah, Sriwijaya membangun dengan material kayu dan bambu yang tidak bertahan lama di iklim tropis. Namun, sejumlah temuan penting tetap berhasil ditemukan:
- Prasasti Kedukan Bukit (682 M) — catatan tertua tentang Sriwijaya yang menyebut ekspedisi militer sang raja
- Prasasti Talang Tuwo (684 M) — berisi doa raja agar taman Sriksetra memberikan manfaat bagi semua makhluk
- Arca-arca Buddha — ditemukan di Bukit Seguntang, Palembang, menunjukkan peran penting agama Buddha
- Temuan keramik Tiongkok — ribuan pecahan keramik dari Dinasti Tang dan Song ditemukan di kawasan Palembang, membuktikan intensitas perdagangan
- Bangkai kapal kuno — beberapa situs kapal karam di perairan sekitar Sumatera mengandung kargo yang terkait dengan jaringan perdagangan Sriwijaya
Sriwijaya vs Majapahit
- Maritim/perdagangan
- Pusat: Palembang
- Abad 7-13
- Agama Buddha
- Menguasai jalur laut
- Diplomasi & perdagangan
- Agraris/militer
- Pusat: Trowulan, Jawa Timur
- Abad 13-16
- Hindu-Buddha
- Menguasai daratan
- Ekspansi militer
Warisan Sriwijaya bagi Indonesia Modern
Meskipun telah lenyap berabad-abad lalu, warisan Sriwijaya tetap hidup dalam identitas bangsa Indonesia. Konsep Indonesia sebagai negara maritim yang membentang di antara dua samudra memiliki akar langsung dalam tradisi Sriwijaya. Keberhasilan kerajaan ini mengelola keragaman etnis dan budaya di wilayah yang sangat luas melalui diplomasi dan perdagangan, bukan semata-mata penaklukan militer, memberikan model bagi pengelolaan negara kepulauan modern.
Nama "Sriwijaya" sendiri kini diabadikan dalam berbagai institusi dan infrastruktur di Sumatera Selatan, dari universitas hingga stadion olahraga. Lebih penting lagi, kisah Sriwijaya mengingatkan kita bahwa Nusantara pernah menjadi pusat peradaban dunia, tempat di mana jalur perdagangan bertemu, ilmu pengetahuan berkembang, dan keragaman budaya dihormati. Pelajaran dari imperium maritim ini tetap relevan bagi Indonesia yang kini berupaya membangun kembali kejayaan sebagai poros maritim dunia.
Sumber & Referensi
- Coedes, George. The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press, 1968.
- Wolters, O.W. Early Indonesian Commerce: A Study of the Origins of Srivijaya. Cornell University Press, 1967.
- Manguin, Pierre-Yves. "The Archaeology of Early Maritime Polities of Southeast Asia." Southeast Asia: From Prehistory to History, RoutledgeCurzon, 2004.
- I-Tsing (Yijing). A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago. Diterjemahkan oleh J. Takakusu, Oxford, 1896.
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. "Kerajaan Sriwijaya dalam Konteks Sejarah Maritim Nusantara." Koleksi Digital, 2024.