BRICS dan Tatanan Ekonomi Baru: Ancaman bagi Dominasi Barat?

29 Maret 2026 7 menit baca

BRICS dan Tatanan Ekonomi Baru: Ancaman bagi Dominasi Barat?

Dalam dua dekade terakhir, sebuah blok ekonomi telah tumbuh dari sekadar akronim menjadi kekuatan geopolitik yang diperhitungkan. BRICS, yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, kini telah berkembang menjadi koalisi yang lebih besar dengan ambisi yang jelas: membentuk tatanan ekonomi global yang lebih adil dan tidak lagi didominasi oleh Barat.

Ekspansi BRICS pada tahun 2024 yang menyambut Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab menandai babak baru dalam sejarah kelompok ini. Dengan lebih dari 40% populasi dunia dan sekitar 35% PDB global, BRICS kini merepresentasikan kekuatan ekonomi yang tidak bisa diabaikan oleh siapapun.

De-Dolarisasi: Mimpi atau Realita?

Salah satu agenda paling ambisius BRICS adalah mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan internasional. Dominasi dolar yang telah berlangsung sejak sistem Bretton Woods memberikan Amerika Serikat keistimewaan yang luar biasa, termasuk kemampuan untuk mencetak uang tanpa batasan konvensional dan menggunakan sistem keuangan sebagai senjata sanksi.

"De-dolarisasi bukan tentang menghancurkan dolar, melainkan tentang menciptakan alternatif. Ketika satu mata uang mendominasi sistem keuangan global, seluruh dunia menjadi rentan terhadap kebijakan satu negara."

Langkah-langkah konkret menuju de-dolarisasi telah mulai terlihat. China dan Rusia semakin banyak menggunakan yuan dan rubel dalam perdagangan bilateral mereka. India dan Uni Emirat Arab telah menyelesaikan beberapa transaksi minyak dalam mata uang rupee. Brasil dan China juga telah menyepakati mekanisme perdagangan langsung tanpa melalui dolar.

Namun, de-dolarisasi penuh masih jauh dari kenyataan. Dolar masih menguasai sekitar 58% cadangan devisa global dan lebih dari 80% transaksi valuta asing. Tidak ada mata uang tunggal yang mampu menggantikan peran dolar dalam waktu dekat. Yang lebih mungkin terjadi adalah fragmentasi bertahap sistem moneter global menuju sistem yang lebih multipolar.

New Development Bank: Alternatif IMF dan Bank Dunia

New Development Bank (NDB), yang didirikan oleh BRICS pada tahun 2014, merupakan upaya konkret untuk menciptakan arsitektur keuangan alternatif. Dengan modal awal 100 miliar dolar AS, NDB bertujuan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang tanpa persyaratan ketat yang sering dikritik dari IMF dan Bank Dunia.

Keunggulan NDB dibandingkan lembaga keuangan Barat antara lain:

Indonesia dan Dilema BRICS

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, Indonesia telah menjadi kandidat kuat untuk bergabung dengan BRICS. Keanggotaan ini akan memberikan Indonesia akses ke sumber pembiayaan alternatif, memperkuat posisi tawar dalam diplomasi multilateral, dan membuka peluang perdagangan yang lebih luas dengan negara-negara berkembang.

Namun, bergabung dengan BRICS juga membawa risiko. Indonesia harus mempertimbangkan dampaknya terhadap hubungan dengan Amerika Serikat dan sekutu Barat lainnya. Ada kekhawatiran bahwa BRICS bisa dipersepsikan sebagai blok anti-Barat, meskipun anggotanya berulang kali menolak narasi tersebut.

Pertimbangan strategis Indonesia dalam menimbang keanggotaan BRICS meliputi:

  1. Potensi akses ke pembiayaan infrastruktur dari NDB yang sangat dibutuhkan
  2. Peningkatan perdagangan bilateral dengan sesama anggota BRICS, terutama China dan India
  3. Risiko geopolitik dari persepsi "memilih blok" dalam rivalitas AS-China
  4. Konsistensi dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia

Menuju Dunia Multipolar

Terlepas dari perdebatan tentang efektivitasnya, BRICS telah berhasil mempercepat transisi menuju tatanan dunia multipolar. Era di mana segelintir negara Barat menentukan aturan main ekonomi global perlahan-lahan mulai bergeser. Negara-negara berkembang kini memiliki platform untuk menyuarakan kepentingan mereka dan menciptakan alternatif terhadap institusi yang selama ini didominasi oleh kekuatan lama.

Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah tatanan dunia akan berubah, melainkan seperti apa bentuk tatanan baru tersebut. Apakah BRICS mampu menawarkan sistem yang lebih adil, atau hanya akan menggantikan satu bentuk dominasi dengan bentuk dominasi yang lain? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah sejarah ekonomi global dalam beberapa dekade mendatang.

Sumber & Referensi

  1. Council on Foreign Relations (CFR), "Global Conflict Tracker," 2026.
  2. International Institute for Strategic Studies (IISS), "The Military Balance 2026."
  3. Reuters World News & Bloomberg Geopolitics, 2026.
  4. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Laporan Tahunan 2025.
  5. Carnegie Endowment for International Peace, Policy Analysis 2026.
#geopolitik #BRICS #ekonomi #dedolarisasi #multipolar

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait